Kamis, 10 April 2008

Illegal Kontrol - You Can't Make An A-Rated Tempoyak From A Sour EYD

Sebuah single pertama dari Illegal Kontrol..

You Can't Make An A-Rated Tempoyak From A Sour EYD
==============================================

Dominative force of linguistic violence
thus condemn all the talented writers.... institutionalize words!!

E.Y.D., yes, call it as sweet as edy, but they're hungry like wolves
the haunting preface, systematic-analysis slave, contra-productive mammals evolve

Dominative force of linguistic violence
thus condemn all the talented writers.... institutionalize words!!

you may find it limitative but you still need all the charm-yet-elegant statistics
whoever create EYD surely have something to do with those -yes,those who wear black peci- economic bandits!

you can't call it personal since the definitions aren't yours
do you care about the language that doesn't contain the F-words?
when Budi and his type-of-Keluarga-Cemara way too idealistic to us no more
we breathe in the curriculum based on linguistic slavery to feed the status quo

write... write...
all you writer-wannabe,
from the indigenous people of Kubu all across Lintas-Sumatra
to a discontent woman stuck on her 5inch heels in a Semanggi skyscraper
just write!


* Ini bermula dari betapa terjebaknya aku dalam sistematisasi penulisan yang baku alias sesuai dengan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) untuk penulisan ilmiahku. aku kesulitan dalam mengembangkan ide-ide untuk diaplikasikan dalam bentuk tulisan, sejak terjadi benturan antara kebiasaan ku memahami model penulisan yang terdapat di bacaan-bacaan alternatif, seperti zine, sastra, dan tulisan-tulisan yang bersifat personal dengan model penulisan formal-baku yang bersifat kaku. ini tambah bermasalah ketika sejak masih SD hingga SMU, bahkan di Universitas, kurikulum bahasa Indonesia hampir tidak pernah berubah dan cenderung membosankan. sebagai contoh, pola pengajaran yang tidak partisipatoris, monoton, menjauh dari kenyataan dan penggunaan sampel Budi dan Keluarganya yang so-called ideal dan di sisi lain, menyempitnya, bahkan cenderung terbatas, definisi dari kata-kata yang realistik, seperti kemiskinan, penindasan, bajingan, keparat, dan kata-kata yang "mengganggu" lainnya. hingga pada akhirnya, kata-kata yang "mengganggu" itu hampir tidak mendapatkan tempat di dalam "khasanah" bahasa Indonesia yang baku, dan tercecer di dalam literatur-literatur personal. Lalu kemana perginya karakter tulisan sebagai bentuk ekspresi pribadi Budi dalam memahami kondisi nyata lingkungannya? setelah menurunnya intensitas dan frekuensi pembuatan karangan yang menceritakan lingkungan kita ditambah tercemarnya daya tangkap kita terhadap realitas akibat sampel Keluarga Cemara, penulisan-penulisan personal menduduki tempat-tempat minor yang sulit menyeruak dari dominasi infus EYD yang sudah menancap di tangan orang-orang. kembali ke sistematisasi penulisan yang limitatif itu, tidak heran jika kita melihat banyak orang yang kesulitan mengekspresikan diri dengan cara yang konstruktif dan sebagian kemudian lebih memilih cara yang destruktif, akibat terbelenggu dalam penjara EYD yang sumpah-bikin-hati-pikiran-dan-tindakan-ngga-sinkron-banget-sama-sekali (aku berani jamin kalo kalimat ini pasti ngga bakal ada di dalam kamus EYD, bahkan yang paling ekstensif sekalipun!) yeah, expression is personal, whether you accept it or not!

Tidak ada komentar: